Jumat, 14 November 2014

suami


kegiatan observasi


Tata Wacana_wacana lisan

WACANA LISAN

A.    Pengertian Wacana Lisan
Wacana lisan ialah wacana yang dihasilkan melalui media lisan, iaitu melibatkan pembicara dan pendengar. Komunikasi yang terlibat dalam wacana lisan ini ialah komunikasi interaktif, yaitu komunikasi yang melibatkan hubungan pembicara dan pendengar secara langsung. Dalam wacana lisan, pembicara biasanya akan menggunakan ekspresi wajah, intonasi suara, gerak badan dan sebagainya untuk menyampaikan sesuatu maklumat kepada pendengar
Wacana lisan memiliki kelebihan kelebihan dari wacana tulis karena  wacana lisan itu alami, langsung, mengandung unsur suprasegmental, bersifat suprasentensial, dan belatar belakang konteks situasional.
Kelemahanannya yaitu kesulitan dalam mengulang kembali wacana dengan sama tepat seperti yang pertama. Willis Edmonsond (dalam Mulyana 2005: 52), dalam bukunya Spoken Discourse (wacana lisan) secara tidak langsung menyebut bahwa wacana lisan memiliki kelebihan disbanding wacana tulis. Beberapa kelebihan di antaranya ialah:
1.      Bersifat alami (natural) dan langsung
2.      Mengandung unsur-unsur prosodi bahasa (lagu, intonasi)
3.      Memiliki sifat suprasentensial (di atas struktur kalimat)
4.      Berlatar belakang konteks situasional

B.     Ciri-ciri Wacana Lisan
Ø  Ciri-Ciri
1.      Kalimat dalam wacana lisan kurang terstruktur, dan tidak lengkap, bahkan hanya susunan frasa.
2.      Penataan subordinatif bahasa dalam wacana lisan lebih sedikit dibanding
3.      Wacana lisan jarang menggunakan kata hubung karena pendengar dan pembicara sudah sama-sama paham tanpa itu..
4.      Dalam wacana lisan jarang digunakan frasa benda yang panjang
5.      Kalimat dalam wacana lisan cenderung berstruktur topik-komen, begitu seorang pembicara menyampaikan sebuah topik, maka pendengar memberikan sebuah komentar
6.      Ketika menyampaikan wacana lisan, penutur dapat memperhalus struktur kalimat yang kurang tepat saat itu juga.
7.      Wacana lisan, khususnya dalam percakapan sehari-hari, seseorang akan lebih sering menggunakan kosakata umum yang mudah dimengerti oleh lawan bicara dari berbagai kalangan.
8.      Wacana lisan memerlukan daya simak yang tinggi agar interaksi tidak terputus
9.      Wacana lisan sulit diulang,dalam arti mengulang hal yang sama dengan ujaran pertama.
10.  Wacana lisan dapat dilengkapi dengan gerakan anggota tubuh untuk memperjelas makna yang dimaksud.
11.  Wacana lisan menyatukan partisipanya dalam satu situasi dan konteks yang sama.
12.  Wacana lisan biasanya lebih pendek dari pada wacana tulis.
13.  Wacana lisan juga melibatkan unsur kebiasaan atau pengetahuan yang telah diketahui bersama (common ground) ,yang ada pada satu keluarga atau kelompok.
14.  Wacana lisan sering melibatkan partisipanya secara langsung.
Ø  Unsur-unsur
1.      Aneka tindak
Aneka tindak merupakan peringkat terbawah pada skala wacana. Perlu kita ketahui bahwa tindak ini mempunyai jenis atau kelas yang beraneka ragam. Burton (1981: 65-8) misalnya membedakan delapan jenis tindak yaitu:
a.       Penanda (marker)
b.      Panggilan (summons)
c.       Permintaan metastatemen (request-metastatement)
d.      Permisi setuju (permission-accept)
e.       Salam panggilan/setuju (greeting-summons)
f.       Salam-Maaf (accuse-excuse)
g.      Informasi-komentar (inform-comment)
h.      Prawancana (preface)
2.      Gerak
Tindak dan gerak dalam wacana sangat bersama dengan morfem dan kata dalam gramatikal. Dengan defenisi dapat di katakana bahwa gerak adalah satuan bebas yang terkecil walaupun dia mempunyai  struktur dalam hubungan tindak (Sinclair dan coultrad, 1978: 23). Ada pakar yang membedakan gerak atas lima jenis, yaitu sebagai berikut:
a.       Gerak susun (framing moves)
b.      Gerak pusat (focusing moves)
c.       Gerak pembukaan (opening move)
d.      Gerak jawban (asnwerring move)
e.       Gerak lanjutan (follow-up move)
3.      Pertukaran
Pakar wacana lisan Deirdre membedakan dua jenis pertukaran atau exchanges yaitu:
a.       Explicit boundary exchanges
b.      Conversational exchanges
Uraian yang sangat terperinci mengenai struktur dan ragam pertukaran telah di adakan oleh Sinclair dan coulthard dalam menganalisis wacana bahasa inggris yang dipergunakan oleh guru dan siswa di kelas. Mereka membedakan dua jenis utama pertukaran yaitu:
a.       Boundary exchanges (pertukaran batas)
b.      Teaching exchanges (pertukaran pengajaran)
4.      Transaksi
Transaksi biasanya, mulai dengan pertukaran persiapan dan berakhir dengan pertukaran akhir. Ada pun tiga tipe utama transaksi adalah:
a.       Transaksi penerangan (informing transaction)
b.       Transaksi pengarahan (directing transaction)
c.       Transaksi pancingan (eliciting trasactions)
5.      Kineksi
Kinesik atau gerakan, Bukanlah merupakan unsur kebahasaan tetapi turut berperan untuk memperlancar jalannya komunikasi lisan tatap muka. Kineksi ini mencakup aspek-aspek tertentu, prilaku komunikatif nonlokal antara partisipan dalam suatu wacana lisan. Ilmu yang menelaah masalah kinesik disebut kinetic (kinetics).

C.    Jenis Wacana Lisan
1.      Wacana monolog (monologue discourse)
Adalah wacana yang disampaikan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Wacana monolog bersifat searah dan termasuk komunikasi tidak interaktif (noninteractive communication). Wacana monolog terjadi seperti pada orasi ilmiah, khotbah, dan penyampaian visi dan misi.
2.      Wacana dialog (dialogue discourse)
Adalah percakapan yang dilakukan oleh dua orang secara langsung. Wacana dialog bersifat dua arah, dan masing-masing partisipan secara aktif ikut berperan didalam komunikasi, sehingga disebut komunikasi interaktif (interactive communication). Wacana dialog terjadi seperti pada peristiwa diskusi, musyawarah, pembicaraan telepon, Tanya jawab, dan teks drama.
3.      Wacana polilog
Adalah pembicaraan atau percakapan yang melibatkan partisipan pembicaraan lebih dari dua orang penutur. Partisipan yang terlibat dalam pembicaraan semuanya berperan aktif dan langsung dalam komunikasi. Wacana polilog terjadi seperti pada peristiwa musyawarah, diskusi, atau debat, dan teks drama.

D.    Contoh dan Analisis Wacana Lisan
Ø  Contoh:
Wacana Dialog Siaran Radio
Talk 1             : Opening (musik pembuka)
Talk2              : Dari bumi hijau pandaan, 107,55 FM, membuka pagi dalam acara
  soundwaves pagi ini……
Talk 3             : Selamat pagi mbak Dini. Bagaimana? Sudah siap mengisi acara
  Soundwaves pagi ini
Talk 4             : Sudah Mas Anton. Lagu apa yang akan kita pilih untuk membuka
  acara soundwaves pagi ini?
Talk 5             : bagaimana kalau lagunya Toto-Africa…OK…Star FM music
matters… Pendengar mari kita dengarkan Africa dari album
TOTO   IV……………….
Talk 6             : Hemn…bukan main…Mas Anton bisa ceritakan sedikit tentang
  lagu Africa ini?
 Talk 7            : Lagu ini diambil dari album Toto IV tahun 1982. Lagu Africa ini
  termasuk satu. Di antara dua hit internasional yang dihasilkan
  album ini…….
Talk 9             : OK. Apa ada tips buat pendengar kita pagi ini mbak Dini?
Talk 10           : Oh…ya tentu ada mas Anton. Tips kita pagi ini adalah bahaya
  mengemudi usai bekerja lembur.
Ø  Analisis:
Wacana diatas merupakan contoh wacana lisan berupa dialog. Dialog yang diambil adalah kegiatan siaran disalah satu stasiun radio yang dibawakan oleh pembawa acaranya. Contohnya diatas termasuk kedalam wacana lisan, dapat dilihat dari ciri-ciri yang telah disebutkan sebelumnya. Ciri yang menunjukkan bahwa contoh diatas tergolong wacana lisan yaitu partisipasi langsung. Dapat dilihat bahwa interaksi yang terjadi pada dialog diatas merupakan secara langsung antara percakapan Anton dan Dini, serta pendengar siaran tersebut. analisis lainnya adalah percakapan ini tidak dapat diulang-ulang kembali terbukti ujaran yang terjadi tidak ada yang diulang. Selanjutnya dialog tersebut melibatkan pembicara dan pendengar tentunya pendengar harus mempunyai daya simak yang tinggi. Melalui analisis tersebut dialog siaran radio diatas masuk kedalam wacana lisan karena terdapat ciri-ciri yang telah disebutkan.


naskah drama_ketika kemenyan berasap

KETIKA KEMENYAN BERASAP
Riri Eka Jayanti



Tokoh – Penokohan:
1.      Kemenyan                        
Seorang yang mengaku bijak namun selalu bertindak konyol dalam suatu usahanya.
(selalu mengenakan kemaja batik dan celana bahan)
2.      Mawar (Istri Kemenyan)
Sosok istri yang selalu patuh dengan suami, sabar serta ramah.
(berbakaian rok pendek serta kemeja berlengan pendek dengan rambut cepol)
3.      Melati (Ajudan 1)
Wanita cantik mempunyai karismatik serta cerewet. Dia menjadi ajudan Kemenyan.
(Memakai rok mini dan kemeja lengan pendek)
4.      Cempaka (Ajudan 2)
Wanita cantik mempunyai sifat pendiam
(Memakai rok mini dan kemaja lengan pendek)
5.      Mbah dukun
Mempunyai watak cleneh dan mata duitan.
(berdandan ala dukun dengan kalung-kalung yang menghiasi lehernya)
6.      Hantu
(berdandan ala kuntilanak memakai pakaian putih)
7.      Warga

     




Ketika sebuah kepercayaan pada diri sendiri mulai berkurang karena sebuah persaingan, banyak orang yang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan sebuah kekuasaan. Tidak ketinggalan pula kisah seorang warga yang ingin mencalonkan diri di desanya. Dia bernama Kemenyan, yang sangat berambisi untuk merebut kursi jabatan di desa Goib. Namun entah apa yang dipikirkan, dia harus menempuh jalan mistis untuk mendapatkan kekuasaan tersebut.  

Adegan 1
(Musik suara burung dan setting lampu terang)
Kemenyan yang selalu berlaga layaknya seorang pelitikus besar sedang berbicang dengan istrinya diteras rumah.
Kemenyan       : Bu, bagaimana kalau bapak mencalonkan kepala desa saja ?
Mawar             : Memangnya bapak sanggup ?
Kemenyan       : walah. . .walah bu ne, bapak ini dulu menjadi ketua kelas waktu di
  SD. (berdiri bangga serta tertawa)
Mawar             : ealah bapak. . bapak, jadi ketua kelas di SD saja kok bangga ! ya sudah
  terserah bapak saja. yang penting tanggung jawab.
Kemenyan       : siap bu ne !!! (berdiri sambil memberi hormat)
Mawar             : ya sudah ibu mau beres-beres rumah dulu.

Sang istri tak kuat dengan tingkah aneh Kemenyan, dia memutuskan untuk masuk rumah. Ketika itu Melati lewat didepan rumah Kemenyan, kemudian dia memanggilnya.
Kemenyan       : Ti. .ti. .sini sebentar !!!
Melati              : aduhhhhh !!!! Pak Menyan ini jangan panggil saya “Ti”! Panggil saya
  Mel. (sambil memainkan rambut panjangnya Saminah centil)
Kemenyan       : Nama mu ini Melati kan ? ya sudah saya panggil Ti aja.
Melati              : Mana mungkin orang secantik dan sesexy saya ini dipanggil Ti.
  Ngemeng-ngemeng ada apa bapak Parman terhormat ini memanggil Mel
  yang cantik ?
Kemenyan       : haduhh. . .pusing sayang ngomong sama kamu! Begini sebentar lagi kan
  pemilihan kepala desa, saya berniat untuk mencalonkan diri. Saya pingin
  desa ini maju.
Melati              : jangan maju-maju pak nanti ketabrak lagi. (celoteh sambil manja)
                          Memangnya bapak bisa memimpin ? wong memipin diri sendiri aja
  berantakan begitu. Yakin pak? Terus apa hubungannya dengan saya ?
Kemenyan       : sebarangan saja kamu, pasti saya bisa! Kamu mau gak menjadi tim
  sukses ku ?
Melati              : mau. . .mau. . mau pak !
Kemenyan       : iya sudah besok kamu mengajak teman mu satu lagi untuk membantu
  dikubu saya.
Melati              : siap bos!!! Saya mau capcus dulu pak.

Setelah Melati pulang. Terdengar teriakan istri dari dalam rumah memanggil Kemenyan.
Mawar             : Pak. . Pak. .Bapak kesini sebentar!!
Kemenyan       : Sek tho bu. Lagi asyik baca Koran ini. (Padahal sedang bermain HP)
Mawar             : Walahh. . .beritanya tentang apa tho pak kok sampai asyik begitu ?
  (sambil menjewer telinga Parman)
Kemenyan       : hehehe. . .bu ne. bapak kira masih didalam bu. (mringis sambil garuk
  garuk kepala)
Mawar             : Ngobrol sama siapa tho pak tadi ?
Kemenyan       : ndak bu tadi ada Saminah datang minta bantuan katanya. eh. . .bu ne tadi
              nyuruh bapak masuk ada apa tho ? perlu bantuan tho bu ?
Mawar             : Bapak lupa tho itu ayamnya belum dikasih makan pak!
Kemenyan       : walah. . .lupa saya bu. Ya sudah bapak ke belakang dulu.

Adegan 2
Saminah sudah siap di pos kampling dekat rumah Parman. Sambil memegang cermin sesekali dia menggerutu menunggu kedatangan Parman. Setting panggung dibuat terang agak redup-redup karena sore hari.
Melati              : Ini si bos kemana tho kok gak datang-datang ? Janjinya jam5 sore
  ketemu disini tapi juga belum nongol-nongol.
Kemenyan       : Melati!!!!!!!!!! (teriak sambil menepuk punggungnya)
Melati              : copot. . copot. . copot. Alahhhh. . si bos ini mengagetkan Ine saja si!
  Lama bingitss si bos datangnya ? kan sebentar lagi Mel ada show
  dikampung sebelah. Mel belum dandan, belum ngeblow rambut, belum
  pakai alis, belum pakai lips. . . .(belum selesai ngomong )
Kemenyan       : stop. . stop. . .stop!!! sudah jangan diterusin. Pusing saya denger kamu
  ngoceh.
Melati              : hehehe, , maaf bos.
Kemenyan       : Mana teman mu itu ? ? kan kemarin saya suruh buat ngajak teman.
Melati              : sa. . . . . (melongo)
Tiba-tiba dari kejauhan tampak sosok cantik yang tidak cantik-cantik amat lari menuju pos kampling.
Cempaka         : M. . C.O.M.I.N.G !!!!!!! (dibaca sesuai tulisan)
                          Aku datang !!!! (lari namun kebablasan)
Melati              : ehhhhhh. . Cem. . Cem mau kemana kamu. (menarik bajunya)
Cempaka         : kebablasan tho saya ini. (tertawa) maap pak bos.
Kemenyan       : sudah!! Pusing saya ini melihat tingkah kalian. Sekarang bagaimana
  rencana kalian?
Melati              : saya gak punya rencana pak bos. Cem kamu ada gak ?
Cempaka         : lho kok saya ? saya kan Cuma ikut-ikutan saja.
Kemenyan       : kalian ini sama saja !!! sudah saya punya rencana kalau nanti kita
  kerumah Ki Jambrong saja.
Melati              : dukun desa tetengga bos ? kok pakai dukun si bos ?
Kemenyan       : lho mau pakai apa ? ? sekarang itu banyak orang-orang yang pada datang
  kedukun. Saya jamin pasti kita menang.
Cempati           : Pak bos, , itu kan dosa. Dilarang di agama kita. Kita harus percaya sama
  diri Allah. Itu berbuatan syirik dan Allah sangat membenci itu.
Melati              : hustttt. . Cem kamu kok malah ceramah si ? (menupuk tangan lina)
Kemenyan       : bagaimana kamu setuju gak Ti ?
Melati              : setuju aja pak bos. Cem kamu setuju juga kan ?
Cempaka         : ya sudahlah.
Kemenyan       : besok malam kita kerumah ki Jambrong ya ?
Melati              : Siap pak bos !!

Adegan 3
(musik seram dengan suara burung hantu serta lampu redup kemerah-merahan)
Pas malam jum’at Kemenyan dan kedua ajudannya pergi kerumah ki Jambrong. Pukul 10.00 malam mereka bertiga di tempat praktik Ki Jambrong. Mereka berjalan mengendap-ngendap seperti maling.
Melati              : Bos, bos bener ini tempatnya ? (berjalan dibelakang Kemenyan)
Kemenyan       : sepertinya si benar ini tempatnya.
Cempaka         : Bos, kok tempatnya seram begini ya ? Pulangnya aja yuk ? (memeluk
  mawar sari belakang)
Melati              : ihhhh. . .apaan si ini ? ? berat tau cemmmmmm!!!!! (melepaskan pelukan
  cempaka)
Cempaka         : aku takut mel, ini gelap banget.
Melati              : kamu itu tahu gak si kalau yang namanya rumah dukun ya gelap. Kalau
  terang dan rame itu mall.
Kemenyan       : hussttt !!!! kalian ini berisik sekali.
Melati              : Tahu kamseupay satu ini.
Kemenyan       : sudah jangan berantem terus mending kita masuk saja.

Dari dalam Ki Jambrong mengetahui kedatangan mereka. Dibalik asap dupa yang sedang dibakarnya, Ki Jambrong memanggil Kemenyan dan ajudannya.
Ki Jambrong    : Masukkkkk!!! Jangan ribut-ribut diluar saja.

Mereka bertiga bergegas memasuki ruangan Ki Jambrong dan menjelaskan kedatangan mereka.
Melati              : Ki maaf mengganggu. Kami bertiga datang kesini. . . . .
Ki Jambrong    : Saya sudah tahu kalian datang untuk apa. (memotong pembicaraan
  Melati) kalian datang kemari untuk memintta bantuan agar kamu menang
  dalam pemilihan kepala desa nanti kan ? (menunjuk Kemenyan)
Kemenyan       : I. .i . . i. .iya Ki benar sekali. Kok Ki Jambrong tahu ?
Cempaka         : wahhhh. . Ki Jambrong pintar. Kita belum menyampaikan tujuan tapi Ki
                          Jambrong sudah tahu terlebih dahulu. Dulu sekolah dimana tho Ki ?
Melati              : Cemmmmm !!!!!!
Cempaka         : lah bener kan ?
Melati              : terserah kamu saja !
Kemenyan       : Bagaimana Ki ? Apa Ki Jambrong bisa membantu ?
Ki Jambrong    : Tenang asal. . . . . .(memainkan jari-jarinnya menandakan menginginkan
  uang)
Kemenyan       : beres itu Ki (menyodorkan sejumlah uang dalam amplop) ini sebagai DP
  Ki, nanti kalau berhasil saya tambah lagi.
Ki Jambrong    : (membuka dan menghitung isi amplop) oke cukup lah.

Ki Jambrong memulai ritualnya, Dupa pun dibakar dan mulai mengeluarkan asapnya. Sambil berkomat-kamit Ki Jambrong beritual. Tidak beberapa kemudian keluarlah sosok hantu berupa kuntilanak.
Hantu              : hi. .hi..hi..hi (ketawa khas kuntilanak)
Cempaka         : han. . . han. . hantuuuuu (mencoba berlari)
Melati              : Cemmmmm, , mau kemana ?
Cempaka         : itu ada hantu, aku takut. Ini kan malam jum’at walaupun gak kliwon si.
Ki Jambrong    : tenang saja. Dia yang akan membantu kalian untuk mendapatkan apa
  yang kalian inginkan.
Kemenyan       : tapi bagaimana caranya Ki ? masa mbak kuntil bisa bantu ? tuyul kek,
  genderuwo kek gitu ki.
Hantu              : sembarang saja kamu !!! (mengahampiri Kemenyan dan memukul
  kepalanya)
Ki Jambrong    : kalian tenang saja. besok kamu siapkan bunga tujuh rupa dan sesajen.
  Kamu taruh dihalaman rumah mu.
Kemenyan       : baik Ki. Sudah itu saja persyaratannya ?
Ki Jambrong    : satu lagi, kamu harus siapkan sejumlah uang.
Kemenyan       : untuk apa Ki ? kan tadi saya sudah bilang bahwa uangnya saya akan
  kasih setelah saya menang.
Ki Jambrong    : itu uang akan dilipat gandakan untuk modal mu kampanye.
Kemenyan       : oooo. . begitu tho ki ? sudahkan ? kalau begitu kami pamit pulang Ki.
Ki Jambrong    : baik, silahkan.

Adegan 4
Siang hari dirumahnya, Kemenyan menyiapkan keperluan untuk sesaji yang diminta diminta Ki Jambrong.
Mawar             : Pak, itu buat apa tho ? (mencoba mencari tahu)
Kemenyan       : ini nanti buat sesaji. Semalam bapak ke tempat Ki Jambrong.
Mawar             : Astaghfirulah pak, , eling jadi apa tidak itu tergantung usaha baik bapak.
                          Tentunya kita juga berdo’a kepada Allah. Jangan malah seperti ini pak.
Kemenyan       : bapak juga ini usaha bu. Dan bapak juga selalu berdo’a.
Mawar             : tapi caranya mbok yang halal pak. Ini berbuatan syirik namanya.
Kemenyan       : sekali ini saja tho bu (sembil memohon kepada sang istri)
Mawar             : terserah bapak saja lah. (berlalu kedapur)

Tiba-tiba dari depan Melati dan Cempaka datang mengagetkan Kemenyan yang sedang asyik dengan sesajinya.
Cempaka         : dorrrrrr !!!!
Kemenyan       : halahhh. . . kalian ini bikin saya jantungan saja.
Melati              : bos sibuk sekali nampaknya ? boleh ikutan bos ?
Kemenyan       : ini saya sedang menyiapkan sesaji yang Ki Jambrong minta.
  (menunjukkan tampah yang berisi sesaji)
Melati              : sudah lengkap semua bos ?
Cempaka         : itu dukun sudah pintar, makannya juga enak-enak.
Melati              : haduuuhhhh. . cem. .cem kamu kapan si pintarnya ?
Cempaka         : makanya saya minta diajari Ki Jambrong supaya pintar.
Kemenyan       : sudah kalian pulang saja. disini berisik saja. saya mau istirahat.

Adegan 5
Setelah tengah malam tiba dan Kemenyan sudah menyiapkan sesaji tersebut. Tiba-tiba KI Jambrong datang bersama dengan hantunya.
Ki Jambrong    : itu orang bodoh sekali ya ? kita kibuli tapi dilakukan juga.
Hantu              : iya bos. Kita pintar ya bos ?
Ki Jambrong    : kira-kira sudah sepi belum ? kita cek apa saja sesajinya (melihat keadaan
              sekitar)
Hantu              : aman bos. . .
Ki Jambrong    : wahhhhhhhh. . banyak sekali uangnya.
Hantu              : coba liat bos ?
Ki Jambrong    : kita kaya ini. (menunjukkan amplop yang berisi uang tersebut)
Hantu              : hahahahahaha. . mau beli apa kita bos ?

Ketika Ki Jambrong sedang berbincang, ada warga yang sedang jaga malam melihatnya.
Karso               : sim, kamu melihat dua orang mencurigakan di depan rumah Pak
                          Menyan ?
Karsim             : Iya, tapi kok satunya berpakaian seperti hantu ya ?
Karso               : apa jangan-jangan itu hantu.
Karsim             : bukan, sepertinya itu orang.
Karso               : maling sim.
Karsim             : maling. . maling (sambil berlari kearah dukun dan mencoba mengkap)

Tidak beberapa lama warga berhamburan keluar tak terkecuali Kemenyan dan istrinya.
Kemenyan       : ada apa ini ribut-ribut didepan rumah saya ?
Karso               : ini pak ada maling (memegangi Ki Jambrong)
Kemenyan       : lohh Ki Jambrong sedang apa disini ?
Ki Jambrong    : anu. .anu. . . (tiba-tiba gagap)
Kemenyan       : ini kan uang yang buat sesaji. Apa maksudnya ?
Ki Jambrong    : sebenarnya saya itu menipu bapak. Kami itu hanya dukun palsu,
  sebelumnya saya sudah tahu rencana bapak. (mencoba menjelaskan)
Kemenyan       : tahu dari mana ?
Ki Jambrong    : waktu sore-sore di pos ronda, saya tidak sengaja mendengar percakapan
  bapak dengan ajudannya. Dari situ saya mempunyai renacana.
Mawar             : kan ibu sudah bilang. Kalau pingin jadi kepala desa itu dengan cara yang
  sehat. jangan malah main dukun. Ketipu kan akhirnya ?
Kemenyan       : iya bu. Maafin bapak.
Mawar             : iya sudah ibu maafin. Tapi batalin saja niatnya buat nyalon kades.
Kemenyan       : terimakasih bu. Bapak batalin semuanya.
Karso               : ya sudah, bubar semua.
Warga              : huuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!


SELESAI